Jumat, 26 Juli 2013

Cerita Para Hafidz Kecil Dari Gaza



Pagi ini, ada yang menarik di ruangan Muroja’ah kami. Seorang Syeikh dari Ghaza telah bersedia membagi waktunya di sela-sela kesibukannya mengatur jadwal Imam dan kegiatan Masjid lainnya. Beliau berbagi cerita bersama puluhan asatidz dan ratusan santri Kuttab Al Fatih, Depok. Sebuah kesempatan yang sangat berharga bagi kami.
Seperti diketahui, ada puluhan Imam Masjid Ghaza yang sengaja di datangkan ke Negri ini oleh Sahabat Al Aqsho Indonesia. Jakarta, Surabaya, Balikpapan, Jogyakarta, dan lainnya. Alhamdulillah..
Maka inilah beberapa kisah yang kami dapatkan dari beliau selama kurang lebih satu jam bersama kami. Bahwa setiap keluarga di Palestina telah menyiapkan anak-anaknya untuk berjihad sejak kecil. Bukan suatu yang asing ketika ada seorang anak yang dengan sigap mempersiapkan keperluan Jihad dan membuatkan teh manis di pagi hari, sesaat sebelum Ayahnya berangkat Jihad.

Dialog yang sudah biasa terdengar ketika seorang ayah berpamitan kepada anaknya: “Nak, Ayah akan berangkat jihad, bagaimana bila kita tidak bisa berjumpa lagi?” “Tidak mengapa ayah, semoga kita bisa berjumpa di SyurgaNya”.

Maka ketika kabar syahid telah diterimanya, sang anak kemudian berkeinginan untuk segera dewasa agar bisa secepatnya melanjutkan perjuangan ayahnya, pergi berjihad. Mereka adalah anak-anak yang sejak kecil telah dididik dengan al Qur’an, memiliki perangai dan akhlak yang baik, serta ilmu yang luar biasa. Merekalah yang dipilih dan memang pantas untuk menjadi pasukan Jihad.

Dua bulan sudah bisa menghafal al Qur’an 30
juz. Bagaimana bisa? Rata-rata setiap juz terdiri dari 10 lembar, artinya ada sekitar 20 halaman. Setiap anak menghafal paling tidak 10 halaman setiap harinya, dengan mengambil 2 halaman di tiap waktu sholat. Maka waktu setelah Shubuh hingga sebelum Dzuhur digunakan untuk mengulang 10 halaman hafalan yang telah dihafal sebelumnya. Dengan begitu, dalam waktu dua bulan al Qur’an telah selesai dihafal.

Belajar dari Ustman bin ‘Affan, Romadhon lalu, pada saat I’tikaf, Syeikh tersebut berkisah kepada para santrinya bahwa sahabat Utsman yang mulia, tidak pernah melakukan rukuk di tiap sholat malamnya sebelum beliau membaca 30 juz al Qur’an, beliau akan terus berdiri sepanjang malam sampai khatam.

Keesokan harinya, seperti biasa Syeikh mendatangi Masjid setelah sholat Isya’, beliau memperhatikan seorang santri yang berdiri di pojok Masjid. Santri tersebut terus diawasi, setelah usai Taraweh, tengah malam, sepanjang malam, santri tersebut masih dalam posisi berdiri. Baru pada saat menjelang sahur, santri tersebut melakukan ruku’. Apa yang terjadi? Ba’da Shubuh terjadi dialog di antara mereka, santri tersebut telah berhasil meneladani sahabat Utsman. Subahanalloh.

Mereka dengan keterbatasan yang ada, di Negri yang tak satupun nyawa terjamin keselamatannya, telah mampu memanfaatkan waktu yang diberikan oleh Alloh untuk agamaNya. Bagaimana dengan kita? Seharusnya kita lebih dari mereka atau paling tidak, sama. Semoga kita bisa membunuh malu dengan lebih mendekat padaNya. Allohu a’lam.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar