Selasa, 13 Agustus 2013

PRO MURSI BERSIAP HADAPI OPERASI KEAMANAN MESIR


Aliansi pro Mursi yang melakukan demonstrasi di beberapa kawasan di Kairo khususnya di lapangan Rab’ah Adawiyah sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi operasi keamanan militer Mesir yang bertujuan untuk membubarkan mereka.
Pasukan keamanan Mesir sedang mempersiapkan diri untuk mengepung pendukung Presiden terguling Muhammad Mursi yang berkumpul di kamp-kamp protes di Kairo selama lebih dari satu bulan.
Sumber-sumber keamanan mengatakan kepada Al Jazeera yang dikutip Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency), polisi Mesir akan meluncurkan tindakan terhadap para demonstran pada Senin pagi (12/8).
Dalam persiapannya, para pengunjuk rasa pro-Mursi telah melakukan pembentengan pada kamp-kamp mereka di Kairo.

Langkah-langkah itu untuk melindungi diri terhadap kendaraan patroli lapis baja dan termasuk membangun penghalang beton dan kayu, serta membeli masker gas, kacamata, dan sarung tangan.
"Keputusan untuk mengambil tindakan pengepungan muncul setelah pertemuan antara Menteri Dalam Negeri Mesir dan para pembantunya," kata satu sumber keamanan Mesir.

Sumber lain mengkonfirmasi, pasukan keamanan Mesir akan dikerahkan di sekitar aksi duduk pada waktu fajar sebagai awal prosedur yang pada akhirnya akan mengarah ke penyebaran.
Gamal Heshmat, seorang pemimpin senior Ikhwanul Muslimin mengatakan, setiap upaya untuk mengepung aksi duduk akan berujung pada sebuah "kejahatan".

"Ini adalah pendudukan untuk semua rakyat Mesir dan setiap upaya untuk menempatkan pengepungan di atasnya atau untuk memaksakan kematian yang lambat dengan memotong air, makanan, atau listrik adalah kejahatan, dan siapa yang bertanggung jawab akan dimintai pertanggungjawaban," kata Heshmat.
"Juga setiap serangan atau pembunuhan terhadap rakyat Mesir atas dasar perbedaan politik seperti yang terjadi sekarang oleh polisi dan tentara juga akan dihukum, dan bisa memicu seluruh Mesir," Hesmat menambahkan.

Pada Ahad (11/8), ribuan massa demonstrai menuntut pemulihan Mursi di tengah upaya terakhir untuk rekonsiliasi menjelang ancaman tindak kekerasan aparat keamanan.
Sementara itu, Al-Azhar mengumumkan upaya terakhir untuk menyelesaikan ketegangan politik dan menyerukan pembicaraan rekonsiliasi antara kedua pihak. (MINA).
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar